Foto:
Kementerian Luar Negeri
Arsip dan
dokumentasi Konferensi Asia Afrika (KAA) yang dilaksanakan di Bandung pada
18-24 April 1955, telah resmi masuk dalam Memory of the World, UNESCO.
Sertifikat
International Register Memory of the World UNESCO yang telah mengakui arsip dan
dokumentasi kegiatan KAA sebagai Memory of the World pada Oktober 2015 tersebut
secara resmi diserahkan oleh Dewatap RI untuk UNESCO, Fauzi Soelaiman kepada
Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, Kamis.
"Saya
sangat bangga dengan masuknya arsip dan dokumentasi KAA ini dalam Memory of the
World, UNESCO, hal ini berarti warisan budaya kita diakui dunia internasional
sebagai warisan dunia yang penting untuk dilestarikan dan dipelajari oleh
masyarakat dunia," ungkap Menlu RI dalam rilis di laman resminya
Kementerian Luar Negeri.
Memory of
the World atau dikenal dengan Ingatan Kolektif Dunia merupakan program yang
dibentuk oleh UNESCO pada tahun 1992. Tujuannya, untuk melestarikan
warisan/pusaka dokumenter di seluruh dunia, mempermudah akses bagi dunia
internasional terhadap warisan peninggalan bersejarah serta meningkatkan
kesadaran masyarakat dalam menjaga keberadaan warisan peninggalan bersejarah.
Selain arsip
dan dokumentasi KAA 1955, tiga genre Tradisional Tari Bali juga resmi masuk ke
dalam Representative List of the Intergovernmental Committee for the
Safeguarding of Intangible Cultural Heritage Intangible Cultural Heritage of
Humanity UNESCO pada tanggal 2 Desember 2015.
Tiga genre
tersebut merupakan tarian yang terinspirasi oleh alam dan melambangkan tradisi,
kebiasaan dan nilai-nilai agama serta sudah diajarkan seca informal kepada
anak-anak usia dini.
Dengan
masuknya arsip dan dokumentasi KAA ke dalam Memory of the World, Indonesia
memiliki lima warisan dokumenter, yaitu : Arsip VOC (2003); Teks Puisi Klasik I
La Galigo (2011); Babad Diponegoro (2013); Kitab Negarakertagama (2013); dan
Arsip KAA (2015).
Sedangkan
dalam kategori warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage/ICH)
beberapa warisan asal Indonesia juga telah mendapatkan pengakuan UNESCO, yakni
Wayang dan Keris (2008); Batik dan Pelatihan Batik (2009); Angklung (2010),
Tari Saman (2011); Noken (2012); dan Tiga Genre Tradisi Tari Bali (2015).
